Selasa, 08 Februari 2011

Ibtida', Rozak

MAKALAH

الإبتداء

(AL – IBTIDA’)

Disusun Sebagai Persyaratan Dalam Mengikuti Ujian Semester Ganjil

Guru Pembimbing :

HUDI EFENDI, S.PdI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

ABDUL ROZAQ

YAYASAN PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT

MADRASAH MU’ALLIMIN MU’ALLIMAT

BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN

TAHUN PELAJARAN 2010 – 2011


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Alasan Pemilihan Judul

Rosulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk mencari ilmu. Salah satu ilmu yang diprioritaskan oleh beliau adalah ilmu bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan sabdanya :

 تعلموا العربية علمواها الناس

Artinya :

Pelajarilah ilmu bahasa Arab, dan ajarkanlah kepada para manusia.

Berdasarkan Hadits diatas secara tidak langsung kita seakan-akan diwajibkan untuk mempelajarinya. Berbicara tentang bahasa Arab tidak bisa lepas dari istilah Nahwu dan Shorof, keduanya merupakan hal pokok yang harus dikuasai sebelum mempelajari materi yang lain, dalam hal ini maksudnya Balaghoh, Mantiq, ilmu Arudl dan lain sebagainya.

Di dalam ilmu Nahwu ada dua hal yang sangat pokok. Yakni jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah. Sayangnya di dalam karya tulis ilmiah ini penulis hanya akan membahas tentang jumlah Ismiyah saja, yang dalam istilah disebut ibtida’.

Sebagaimana arti dari Ibtida’ itu sendiri yaitu permulaan yang berarti tanpa memahami hal tersebut terlebih dahulu, kita tidak akan bisa memahami materi yang selanjutnya yang merupakan cabang atau pelengkap darinya.

1.2              Metode Penulisan

Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan metode sebagai berikut :

1.      Studi Pustaka

2.      Melengkapinya dengan kitab yang lain yang lebih spesifik.

1.3              Rumusan Masalah

Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis mempunyai landasan-landasan yang terangkum di dalam rumusan masalah sebagai berikut :

1.     Apakah definisi Mubtada’ dan pembagian-pembagiannya ?

2.     Apakah pengertian Khobar beserta macam-macamnya ?

3.     Apa yang dinamakan Musawwigh dan macam-macamnya ?

4.     Kapan Khobar wajib diakhirkan dari Mubtada’ ?

5.     Kapan Mubtada’ dan Khobar boleh dibuang ?

6.     Kapan Mubtada’ dan Khobar wajib dibuang ?

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis akan membahasnya dalam bab pembahasan setelah disusun sistematikanya.

1.4              Sistematika

Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, penulis berharap agar para pembaca bisa lebih mudah dalam mencari bab dan sub bab, maka disusunlah sistematika sebagai berikut :

1.      BAB I Pendahuluan, yang berisi :

                Alasan Pemilihan Judul

                Metode Penulisan

                Rumusan Masalah

                Sistematika

2.      BAB II Pembahasan, yang berisi :

2.1      Pembagian Mubtada’ beserta definisinya

2.2      Pengertian Khobar Mubtada’ beserta macam-macam khobar

2.3      Macam-macam Musawwigh

2.4      Tempat-tempat yang wajib diakhirkan Khobar dan Mubtada’

2.5      Tempat-tempat yang wajib mendahulukan khobar dan Mubtada’

2.6      Mubtada’ dan Khobar yang boleh dibuang

2.7      Tempat-tempat wajib membuang Khobar dan Mubtada’

3.      BAB III Penutup, yang berisi :

3.1      Kesimpulan

3.2      Saran

3.3      Daftar Pustaka


BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1              Pembagian Mubtada’ beserta Definisinya.

·         Pengertian Mubtada’

Mubtada’ ialah isim yang dibaca rofa’ yang disembunyikan dari amil-amil lafdhi,[1] dan ciri utama darinya ialah berada di awal kalimah. Contoh : محمد رسوالله

·         Pembagian Mubtada

-          Berdasarkan Bentuknya.

a.       Mubtada’ isim dhohir yang berarti mubtada’ tersebut terdiri dari isim dhohir. Contoh : الحمدلله

b.      Mubtada’ Isim Dhomir yang berarti mubtada’ tersebut terdiri dari isim dhomir (kata ganti). Contoh :   وهز لاسميع العليم

-          Berdasarkan Pasangannya.

a.       Mubtada’ Lahul Khobar مبتداء له الخبر

Yakni mubtada’ yang membutuhkan pada khobar (penjelas) untuk menyempurnakan faidahnya. Contoh : انا خلد

Hal ini merupakan bentuk yang paling umum (sering dijumpai dalam redaksi tulisan arab).

b.      Mubtada’ Lahul Marfu’ Sadda Masaddal Khobar مبتداء له امرفوع سد مبتداءالخبر

Yakni mubtada’ yang tidak membutuhkan khobar, akan tetapi membutuhkan fa’il yang berfungsi mengganti posisi kedudukan khobar.[2] Contoh : اقائم الزيدان

Dalam hal ini ada beberapa persyaratan diantaranya :

-          Bila ada Mubtada’ dan isim sifat (isim fa’il dan sebagainya) yang bersandingan dengan nafi atau atau istifham.

-          Kalimat sesudahnya ada isim yang dibaca rofa’ yang selain mufrod (tasfi’liyah atau jama’). Maka susunan kalimat tersebut yang pertama (isim sifat) ditarkib sebagai mubtada’ dan yang kedua atau kalimat sesudahnya ditarkib menjadi Fa’il Sadda Musaddal Khobar. Contoh : اقائم الزيدان

Contoh :

Namun selain hal-hal diatas masih ada ketentuan-ketentuan yang lain yang mana penulis sengaja tidak mencantumkan semuanya dengan tujuan agar para pembaca lebih mudah untuk memahaminya.

 

2.2              Pengertian Khobar Mubtada’ beserta macam-macamnya.

·         Pengertian Khobar Mubtada’

Khobar Mubtada’ ialah isim yang disandarkan pada mubtada’ yang menyempurnakan faidah bersama mubtada’,[3] contoh lafadz قائم  dalam susunan زيد قايئم. dengan kata lain khobar merupakan komponen penting yang hampir tidak bisa lepas dari mubtada’.

·         Macam-macam Khobar Mubtada’

a.       Khobar Mufrod  حبر مفرد

Ialah khobar yang tidak berupa jumlah. Walaupun berbentuk tasniyah atau jama’ contoh :     [4]المجتهدن المحمدان ، المختهد محمود

b.      Khobar Jumlah

Ialah Khobar yang berupa jumlah, baik fi’liyah maupun ismiyah. Contoh : Jumlah Fi’liyah = الحسن يعلى قدر صاحبه

Jumlah Ismiyah = العامل خلفه حسن

Dalam hal ini diisyaratkan khobar jumlah harus mempunyai dlomir yang kembali pada lafadznya mubtada’,[5] seperti pada contoh diatas.

c.       khobar syibhul jumlah

ialah khobar yang berupa susunan jer majrur (جر مجرور) atau dhorof madhruf (ظرف مظرف)

contoh: jer majrur: محمد فى البيت

dhorof madhruf:الاستاد امام الفصل

 

2.3              Macam – macam musawwigh

Sebelum kita mengetahui lebuh lanjut terlebih dahulu kita perlu mengerti arti dari musawwigh itu sendiri.

Musawwigh ialah sesuatu yang memperbolehkan mubtada’ dijadikan dari isim nakiro. Sebelumnya mubtada’ tidak boleh terdiri dari isim nakiroh. Karena syarat mubtada’ diantaranya adalah terbentuk ma’rifat, namun jika ada musawwigh, maka hukumnya menjadi boleh.

Diantara musawwigh tersebut antara lain:

a.       mubtada’ nakiroh yang disifati

contoh: رجل كريم عندنا

lafadz رخل Adalah nakiroh, namun karena disifati oleh lafadz كريم maka boleh dijadikan mubtada’.

b.      Mubtada’ nakiroh yang di idhofahkan dengan isim nakiroh yang lain.

Contoh:  غلام رجل فى البيت

c.       Mubtada’ nakiroh didahului nafi (hukum meniadakan)

Contoh:ما رجل حاضر

d.      Mubtada’ nakiroh yang wajib diakhirkan dari khobarnya sebab khobar terdiri dari jer majrur atau dhorof madhruf.[6]

Contoh: هل رجل فيكم؟

e.       mubtada’ nakiroh yang wajib diakhirkan dari khobarnya sebab khobar tediri dari jer majrur atau dhorof madruf

Contoh :في المسجد النسان

Sebenarnya masih ada sembilan musawwigh lagi yang oleh penulis sengaja tidak mencantumkan kesemuanya, Karena yang telah disebutkan diatas adalah bentuk – bentuk yang paling umum.

2.4              Tempat – tempat yang wajib diakhirkannya khobar dari mubtada’

Diantara tempat – tempat tersebut adalah:

a.       ketika mubtada’ berupa isim – isim yang harus berada di awal kalimah seperti isim syarat, istifham dan lain – lain.

Contoh: ومن يعمل مثقال ذرة خير يره

b.      mubtada’ bersamaan dengan lam ibtida’

contoh:ويعبد مؤمن خير من مشرك

c.       mubtada’ diringkas denganإلآ atau إنما

contoh: انما انت نذير، وما محمد الارسول[7]

 

2.5              Tempat – tempat wajib mendahulukan khobar dari mubtada’.

Pada dasarnya mubtada’ harus berada diawal kalimat (mendahului khobar) akan tetapi pada tempat – tempat tertentu khobar wajib didahulukan, diantaranya:

a.       jika mubtada’ berupa nakiroh dan khobar berupa jer majrur atau dhorof madruf. Contoh: فى الدار رجل [8]

b.      jika khobar berupa isim istifham

contoh:كيف حلك؟

c.       bila mubtada’ mengandung dlomir yang kembali pada lafadznya khobar.

contoh: فى الدر صحبها

d.      bila khobar diringkas dengan mubtada’ dengan menggunakan lafadz إلآ atau إنما

contoh :  مل خلق الا الله[9]

 

2.6              Mubtada’ dan khobar yang boleh dibuang

v  Mubtada’ boleh dibuang jika ada dalil (petunjuk) yang menunjukkannya. Diantaranya adalah:

a.       Menjadi jawab dari suatu pertayaan.

Contoh: lafadz مجتهد (khobar) dari pertanyaan كيف سعيد؟

Yang asalnyaهو مجتهد

b.      Mubtada’ masdar dari fiil yang jatuh sebelumnya.

Contoh: من عمل صلحا فلنفسه  asalnya وعمله لنفسه

c.       Sudah maklum atau sudah jelas.[10]

Contoh:  سورة انزلناasalnya هده سورة

v  Khobar boleh dibuang jika:

a.       Menjadi jawab dari pertanyaan

contoh: زهير dari pertanyaan من مختهد؟

زهيرمجتهد                        

b.      jika sudah jelas

contoh:ضر        خرجت فاذا الاسد   فاذا الاسد حا

c.       khobar mubtada’ sama dengan khobar yang jatuh sebelumnya[11]

contoh: وظلها دائم          اكلها دائم وظلها

 

2.7              Tempat – tempat wajib membuang khobar dan mubtada’

v  Wajib membuang mubtada’ jika :

a.       jika ditunjukkan oleh jawabnya qosam (sumpah)

contoh: في دعتى عهد       في ذمتى لأفعلن كذا

b.      jika khobarnya berupa masdar yang menggantikan (beramal sebagaimana)fi’ilnya.

Contoh:صبري صبرجميل    ا ى        صبر جميل   

c.       jika khobarnya menjadi mahsus (مخصوص) dari ……

contoh:هو ابو طالب         اى             نعم الررل هوابو طالب     

d.      jika khobar yang asalnya naat yang diputus dari sifat naatnya di dalam menunjukkan rijian, celaan, atau kasihan.

Contoh:حذ يجة زهير الكريم  Asalnyaهو الكريم

Yang mana lafadz  الكريم itu bisa ditarkib sebagai maf’ul bih dari fi’il yang dibuang yakni lafadz امدح[12]

v  wajib membuang khobar jika :

a.       jika menunjukkan pada sifat yang mutlak dengan kata lain sudah umum.

Contoh:الكرسى كائن فى البيت       اى       الكرسى فى البيت

b.      bila menjadi khobar mubtada’ yang shorih didalam Qosam.

Contoh:لعمرك لأفعلن  يعمرك قسمى       اى    ل

c.       jika mubtada’ berupa masdar atau isim tafdil yang mudhof pada masdar.

Contoh: تاءديبى الغلام حاصل عند اسائته       اى تاءد يبىالغلام

d.      jika khobar jatuh setelah wawu muta’ayyin (menjelaskan) yang bermakana ”bersamaan”.[13]

Contoh:كل مرء فعله مقترنان          اى       كل امرء وما فعل     

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

a.       Ibtida’ atau jumlah ismiyah adalah salah satu hal yang terpokok dalam kaidah bahasa arab.

b.      Mubtada’ itu mempunyai pembagian – pembagian berdasarkan bentuk dan pasangan atau pelengkapnya.

c.       Demikian juga khobar mubtada’ terbagi menjadi beberapa bagian.

d.      Ketika susunan tidak sesuai dengan persyaratan ada musawwigh sebagai jalan keluarnya.

e.        Khobar ada yang wajib didahulukan adari mubtada’nya.

f.       Mubtada’ dan khobarnya ada yang boleh dibuang.

g.      Mubtada’ dan khobarnya ada yang wajib dibuang.

 

3.2  Saran

Para pembaca yang budiman, penulis menginginkan karya tulis ilmiyah ini dapat bermanfaat dan biasa menjadi shodaqoh jariyah baginya oleh karena itu pelajarilah tuliasan – tulisan ini dengan landasan rasa cinta kepada ilmu agama agar para pembaca dimudahkan oleh Allah SWT dalam memahaminya.

Dan yang terpenting tulisan ini tidaklah sepi dari kesalahan dan kekeliruan. Oleh karenanya penulis memohon dari pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya untuk lebih menyempurnakan isi dari karya ilmiyah ini.

 

3.3  Daftar Pustaka

·         Ahmad Al Fakihi, Abdulllah, Al Fawakihul Janiyah, Al- Hidayah: Surabaya.

·         Al – Ghoyyani, Musthofa, 2008, Jami’ud Durus Atobiyyah, Maktabah As- Syuruq Dauliyyah: Mesir.

 



[1] Syaikh Abdullah bin Ahmad, Alfawakihul Janiyah, (Surabaya : Al Hidayah), 42

[2] Ibid, 42

[3] Syaikh Mustofa A., Jami’udduras (Maktabah As-Syuruq Dauliah), 448

[4] Ibid, 455

[5] Ibid, 456

[6] Ibid, 447

[7] Ibid, 448

[8] Ibid, 460

[9] Ibid , 460 - 461

[10] Ibid, 551

[11] Ibid, 452 - 453

12 ibid , 451

[13] Ibid, 453

Af'alul Muqorobah, Afif

أفعال المقاربة

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Mata Pelajaran

NAHWU

Ustardz:

HUDI EFENDI, S.Pd.i

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

AFIF ZAENAL ARIFIN

 

MADRASAH MU’ALLIMIN – MU’ALLIMAT

YAYASAN PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT

BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN

2010/2011


DAFTAR ISI

 

A.    PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang............................................................................................... 1

2.      Tujuan Penulisan............................................................................................ 1

B.     PEMBAHASAN

1.      Af’alul Muqorobah Yang Tergolong Jamid Dan Yang Mutashorrif............. 2

2.      Af’alul Muqorobah Yang Tergolong Naqish Yang Bisa Berlaku Tam.......... 2

3.      Huruf Sin Dari Lafadz عسى Bisa Dibaca Fathah Dan Kasroh....................... 2

C.     PENUTUP

1.      Kesimpulan.................................................................................................... 3

2.      Saran Penulis.................................................................................................. 3

DAFTAR PUSTAKA

 


A.    PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Puji syukur tiada henti-hentinya selalu saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufiq serta hidayah ni’mat –ni’matnya yang tak terhingga yang selalu mengalir dengan derasnya, terutama ni’mat iman dan Islam, semoga ni’mat yang amat besar ini selau kita sandang sampai kita dipanggil keharibaanya. Amin.

Buku ini termasuk karya AFIF ZAENAL ARIFIN yang menerangkan salah satu bab yang terdapat dalam kitab alfiyah ibnu maliq yaitu bab Af’alul Muqorrobah.

Dalam upaya mengembang kan upaya berbahasa arab,amat diperlukan buku yang menitik beratkan pada kajian kebahasaan.

Untuk memenuhi tersebut kami memberanikan diri menerbitkan MAKALAH ini. Didalam menyusunya kami sudah memilih perkatan-perkataan yang mudah difahami. Dalam mengusahakan isi di suatu bab denagan secar ringkas dan tepat banyak kesulitan yang kami hadapi.

Kesulitan-kesulitan itu terutama dalam memilih istilah-istilah yang mudah difahami dalam bahasa Indonesia.

Untuk itu penulis mengharapkan agar pembaca bisa memahami apa yang terdapat dalam karya ini denagn mudah. Khususnya bagi generasi muda Islam Indonesia yang memiliki wawasan keagamaan dan kebagsaan.

  1. Tujuan Penulisan

Dalam hal ini penulis mempunyai tujuan sebagai berikut :

-          Agar pembaca bisa mengerti tentang Af’alul Muqorrobah yang tergolong Jamid, naqish dan yang berlaku tam dan mengerti perbedaan lafadz Af’alul Muqorrobah.

-          Agar pembaca dapat mempelajari tentang pengertin Af’alul Muqorrobah.

 

 

B.     PEMBAHASAN

  1. Af’alul Muqorrobah yang tergolong Jamid dan yang Mutashorif

Lafdz كاد، عسى، كرب، اوشك itu semuanya dalah Af’alul Muqorobah hanya saja yang tergolong Jamid dan yang Mutashorif kecuali lafadz اوسك dan كاذ itu tidak termasuk Jamid dan kedua lafadz tersebut mempunyai fiiil mudhore’ dan isim fail. Contoh:

a.       Fiil Mudhore’ يوشك  dan كاذ  itu bisa beramal seperti madhinya

يوشك ان يقع نيه

يكاد البرق يحطف ابصارهم

b.      Isim Fail موشك dan كائذ itu juga bisa beramal seperti madhinya

فموشكة ارضنا أن تقودا

يقيا لرهن بالذى أناكائد[1]

  1. Af’alul Muqorrobah Yang Tergolong Naqish Yang Bisa Berlaku Tam

Semua lafadz Af’alul Muqorrobah kecuali عسى، احلولق، اوشك itu disamping bisa berlaku naqish juga bisa berlaku tam hanya saja bisa mengamalkan ma’mul marfu’ yang berupa mudhore’ yang disertai  او  masdariyah

Contoh :عسى ان يقوم [2]

  1. Huruf Sin Dari Lafadz عسى Bisa Dibaca Fathah Dan Kasroh

Lafadz عسى bila bertemu dhomir marfu’ mutaharrek atau disandarkan pada dhomir marfu’ mutaharrek maka isnya boleh dibaca fathah. Contoh :

عسيت ان اقوم

Dan juga boleh dibaca kasroh. contoh :

عسيت ان اقوم

Tapi yang banyak diginakan adalah menggunakan fathah.[3]

 

C.    PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa pengertian af’alul muqorrrobah adalah lafadz كاد dan عسى itu beramal seperti كان yang merofa’kan isim dan menasabkan khobarnya, hanya khobarnya terdiri dari fiil mudhore’ itu kebanyakan bersamaan dengan ان masdariyah, jika tidak maka hukumnya syad (menyimpang dari kaidah) adapun khobarnya adalah sebaliknya, jadi yang banyak tanpa bersamaan dengan  ان  masdariyah.

  1. Saran Penulis

Dalam hal ini saya selaku penulis menyarankan bagi para pembaca agar selalu membaca karena kalau tidak membaca maka tidak tahu ilmu yang dipelajari, diibaratkan gentong yang tidak pernah diisi air maka kosonglah gentong tersebut. Apabila anda ingin mengetahui segala seluk beluk ilmu maka pondasi pertama kali adalah membaca.

Penulis juga menyarankan kepada para pembaca agar selalu membuka pintu maafnya karena semua manusia pasti mempunyai kesalahan, khusunya penulis apabila ada kekeliruan dalam membuat MAKALAH ini saya selaku penulis mohon maaf sebesar besarnya.

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Sholeh. M. Maftuhin, 1998. Audhotul Masalik, Surabaya : Putera Jaya

KH. Abdurrrohman, 2006. Ibnu Malik, Banjaranyar Paciran Lamongan



[1] M. Mafthuhin, Sholeh, Nadwi, Diterjemah Audhotul Masalik, (Surabaya Putera Jawa, 1998) 205

[2] Ibid, 206

[3] K.H. Abdurrohman, Terjemah Ibnu Malik, (Banjaranyar Paciran Lamongan, 2005) 173.

Istighotsah, Ali badruddin

الاستغا ثه

Diajukan untuk memenuhi tugas ujian akhir semester dalam pelajaran nahwu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Guru Pembimbing:HUDI EFFENDI.S.Pdi.

Oleh                     :M.ALI BADRUDDIN.

 

 

MADRASAH MU’ALIMIN MU’ALIMAT

YAYASAN PONDOK PESANTREN SUNAN DRAJAT

BANJARANYAR PACIRAN LAMONGAN

2010-2011


A.PEMBUKAAN

 

Ilmu nahwu adalah cabang ilmu pengetahuan bahkan jantung dalam ilmu pengetahuan agama yang harus diketahui dan harus dipelajari oleh para pelajar agama terutama para pelajar pondok pesantren-pesantren.maka dari itu ilmu nahwu salah satu metode yang atau syarat yang harus ada untuk para santri terutama.dan merupakan cabang ilmu agama  bahkan sebagai alat untuk mengkaji kandungan al-qur’an dan hadist.

Seiring dengan pentingya masalah nahwu dan banyaknya pelajar atau santri yang masih kurang faham tentang masalah nahwu dan kejelasan masalah nahwu.maka penulis menyajikan suatu ringkasan atau makalah tentang ilmu nahwuyang membahas tentang “ISTIGHOSAH” yang skelumit pembahasanya,hanya sekedar  dapat memperluas tentang bab tersebut.dengan pembahasan yang berbeda dengan pembahasan buku yang lainya.

 

B.PEMBAHASAN

 

1.PENGERTIAN ISTIGHOSAH & MUSTAGHOSLAH

 

Istighosah yaitu memanggil orang yang dianggap bisa membantu menghilangkan beban berat atau kesengsaraan atau bahkan bisa membantu menolaknya [1]

Istighosah:nida’ yang di jelaskan untuk menolak suatu kesengsaraan نحو =يا للاقوياء للضعفاء “yekti nolak marang piro-piro wong apes”

Dan semua huruf nida’  itu tidak bisa dijadikan istighosah kecuali huruf ya’ nida’.dan tidak boleh membuang ya’ nida’ begitu pula mustaghos.dan adapun kalau mustaghoslah boleh dibuang نحو = يا الله . [2]

Sesuatu yang di tuntut untuk meminta pertolongan itu dinamakan mustaghos.

 Sedangkan tuntunan suatu pertolongan disebut dengan mustaghoslah.[3]

Bila isim itu akan dibuat  munada الاستغاثه haruslah diberi huruf jer lam[لا] yang di baca fathah نحو=لزيدلعمر lafadz لزيد adalah mustghos dan lafadz  لعمر adalah mustaghoslah.[4]

 

2.MODEL ATAU BENTUK MUSTAGHOL

Bila مستغاث  itu diikuti مستغاث  yang lain maka ada 2 model yaitu:

  1. jika يا nida’nya diulangi maka لا  wajib dibaca fathah pula

     نحو=يا لزيدويالعمرلبكر

  1. jika huruf nida’ ya’ nida’ tidak di ulangi maka لا wajib dikasroh

نحو=يالزيدولعمرلبكر  [5]

3.HUKUM MUSTAGHOS ITU ADA 3 HUKUM

 

Hukum dalam mustaghos yaitu ada 3 yaitu:

             I.      Ada kalanya dijerkan dengan lam zaidah yang mana lam tersebut wajib di baca fathah  نحو=يا لقومي.

يا          = itu huruhf nida’ untuk istighosah.

ل          =huruf jer zaiddah yang digunakan memperkuat istighosah.

قومي     =dibaca jer dengan huruf jer zaiddah ,yaitu dengan  mahal nashob sebab menjadi nida’.

          II.      Apabila diakhiri dengan alif zaiddah itu di gunakan untuk mmemperkuat istighosah itu sendiri.نحو=يا زيدا.

Lafad munada mufrod yang berupa isim ma’rifat yang di mabnikan dhomah yang [مقدر ]di kira-kirakan pada akhirnya yang mencegah kejelasan istighosah  yang di gunakan untuk  kepantasan alif yang  digunakan untuk memperkuat pengamalanya.

       III.      Menempatkan kepada keadaanya

Adapun mustaghosah  jika disebutkan pada suatu kalam maka wajib di jerkan degan lam yang selamanya dibaca kasroh.نحو=يالقومى للعلم  .

Lam istighosah itu hurufnya asli dan tidak ada tambahan yang fungsinya mengganti ya’nida’.[6]

 

 

C.PENUTUP

ISTIGHOSAH yaitu suatu nida’ yang digunakan untuk memanggil orang yang dianggap bisa membantu menghilangkan beban berat atau kesengsaraan atau bisa membantu menolaknya dengan  hanya menggunakan huruf nida’ ya’ dalam penggunakanya  tidak boleh yang selain ya’ nida’.adapun tidak boleh membuang ya’ begitupun pula mustaghos & adapun kalau mustaghoslah boleh dibuang.

Dan istighosah banyak beberapa bentuk,hukum-hukum dalam pengertianya dan dalam pengamalanya.

D.SARAN

Semoga dengan adanya makalah ini dapat memperluas pengetahuan kepada pembaca tentang masalah nahwu.terlebih dalam bab istighosah dan semoga dengan dibuatnya  rumusan bab ini dapat menjadi pedoman,wawasan,motivasi dalam pembuatan berikutnya dan acuan dalam penerapan masalah nahwu terlebih bab istighosah.carilah jati dirimu di bidang ilmu agama dan ajarkan kepada orang yang membutuhkan agar dapat berguna ilmu kamu selama ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Daftar pustaka

 

Sholeh Nadwi,M.Maftuhin.1998 Audhohul Masalik.surabaya:putra jaya.

Al-Gholayani,Syaih Mustofa.1971.Jami’uddurus Al Arabiyah.Libanon:DKI.

Aris,H.Ahmad Jauhari.1996.Minhajus Salik.:Madura.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 



[1] M.Maftuhin Sholeh Nadwi,afdholul masalik juz 3 (Surabaya putra jaya.1998)Hal

[2] Syaih mustofa al-gholayani,jami’uddurus arabiyah (DKI Libanon 1971)hal 119-121.

[3] H.Ahmad Jauhari A’ris,Minhajul Salik Jus 2(Bangkalan,Madura)Hal 74-75

[4] Ibid hal 74-75.

[5] Ibid,hal 75.

[6] Ibid,hal 120.